Sabtu, 05 Juli 2008

Dear DiaRy...

Assalamu'alaikum wr.wb.

DEMI RASA CINTA DAN PERSAHABATAN
ANUGERAH SANG MAHA CINTA
SAMBUTLAH SENYUMAN TULUS
TUK IKATAN PERSAHABATAN DIANTARA KITA

Menerawang hitungan hari kehidupan diatas beragamnya susunan tanah di muka bumi. Langit terlalu gelap untuk melihat awan keteduhan, sedang jagat raya mesti terus berotasi.


Winda dan Yuki telah menjalin persahabatan sejak usia belia. Mereka bagaikan 2 sejoli yang tak terpisahkan. Bak sebuah pribahasa “dimana ada gula, disitu ada semut”, ya… dimana ada Yuki disitu ada Winda.

Terpasung oleh waktu, tenggelam tanpa pengapungan.
Suatu hal yang membuat persahabatan winda dan Yuki harus berpisah pun terjadi. Yuki mesti mengikuti kedua orang tuanya yang ditugaskan keluar kota.

Beberapa waktu sebelum berpisah, diusia mereka yang ke 7 tahun kini, Yuki dan Winda berjanji membuat himitsu (rahasia, kado ulang tahun) dan akan mereka buka bersama saat usia telah menginjak 17 tahun. Dan himitsu itu akan di tanam di sebuah taman dekat rumah, di bawah pohon besar.

Taman yang indah…
Yuki: Oh, maaf… maaf…
Winda: Iya, tidak masalah…(sambil menyungging senyum)
Sungguh, senyum itu pernah ku lihat… senyum yang selalu ku rindukan.
(yuki, terburu-buru pergi)

Winda: sepertinya buku ini milik gadis tadi… (sambil membuka-buka buku, dan menemukan nama yang sangat berarti pada dia)
Yukita maia, 081344055555
Mengapa nama ini sangat mirip dengan sahabatQ Yuki?
Sebaiknya aku hubungi saja…

Winda: Halo, Assalamu’alaikum, Nona Yukita Maia
Yuki: iya benar…
Winda: saya winda, tadi pagi tabrakan dengan anda. Dan ada 1 buku anda terbawa oleh saya.
Yuki: oh… baiklah saya akan mengambilnya. Hari ini setengah 5 sore di taman.
Winda: iya… sampai jumpa, Wassalamu alaikum.

Taman itu sungguh indah, sambil menunggu winda. Yuki terus memandangi pohon besar yang menyimpan banyak kenangan bersama sahabat kecilnya. Matanya mulai nampak berkaca-kaca, dia ingin sekali kembali ke masa itu, semua suka bersama winda terekam oleh saksi bisu sebuah pohon. Dan sepertinya, pohon itu pun tetap kokoh berdiri setelah 10 tahun lamanya. Sahabatku Winda, aku telah kembali.. kamu, dimana???

Teman Yuki 1: hei… friend… gy ngapaen loe?
Teman Yuki 2: iya nie… nongkrong di taman lagi… nggak asyik banget sie…
Yuki: Gue lagi nunggu orang nie,, buku gue kebawa ama dia… gila, nggak nyadar apa kalo ditungguin… udah 15 menit nih… nggak tau apa,, my time is money.
Teman Yuki 3: hahaha… bete’ yach… loe mau???
Teman Yuki 1: Kita mau party dulu nie… ntar, loe nyusul yach…
Yuki: ya iyalah, masa ya iyakan… apalagi ya iya dong… hahaha… bye… man…

Di sudut taman lain, sosok Winda terlihat bersama teman-temannya.
Winda: Melaksanakan perintah Allah tidak boleh malu atau takut, yakin apa yang kita lakukan bukan karena manusia, tapi hanya semata-mata karena Allah.
Teman Winda 1: Tapi, win gimana dengan mereka yang…
Teman Winda 2: Semua manusia pasti melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Al ihsan makanul khoto wanisyan, manusia adalah tempat salah dan lupa, ya kan win???
Winda:iya… dan…
Teman Winda 1: taubat artinya kembali, atau tidak mengulangi perbuatan itu lagi, caranya: Niat yang benar, menyesali perbuatan tersebut dan tidak pernah mengulangi kembali. Aku juga hafal lho...
Winda: oh yach… aku ada janji nie,,
Teman winda 1: kalau gitu, kita juga amu pulang dulu nie,, Assalamu’alaikum
Winda: Wa’alaikum salam Wr. Wb.


Winda menghampiri Yuki
Winda: maaf lama menunggu… saya baru pulang dari pengajian
Yuki: mana buku saya?
Winda: nama kamu Yukita Maia?Yuki: iya, emang napa?
Winda: perkenalkan saya Winda althafunnisa, saya tinggal sekitar 100meter dari taman ini, dulu saya punya teman masa kecil, tapi dia telah pergi dan entah kemana, namanya sama denganmu… Yukita Maia.
Yuki: Ya… sungguh aku sangat mengenalmu winda… inilah aku, Yuki…

Kedua sahabat itu akhirnya bertemu lagi. Sontak keakraban pun tak menjadi hal yang canggung bagi mereka. Winda berbagi banyak kisah dengan Yuki. Begitu pun dengan Yuki, tidak segan-segan dia menceritakan semua hal yang membuatnya merubah cara bergaulnya selama ini.

Tak tahan menahan sedih, air mata winda pun menetes tanpa ia sadari. Dia memeluk sahabatnya, seolah-olah merasakan apa yang dialami sahabatnya selama 10 tahun itu.
Pertemuan kedua sahabat itupun diakhiri dengan saling mengingatkan akan janji mereka di bawah pohon besar itu. Ya… Himitsu mereka…


Yuki berjalan tampak ragu-ragu jalan menuju rumah
Ayah: sudah terlau sering kau pulang malam… ibu seperti apa kau ini…!!!!!!
Bunda: apa? Aku ini kerja… you know…
I realy not understand about your opinion...
Ayah: Lancang sekali kau…!!!!!!!!
Bunda: Aku menjadi seperti ini karena kau yang membentukku. Don’t forget pendapatku lebih tinggi darimu.
Ayah: Jaga omonganmu… Pergi dari rumah ini…!!! Pergi…
Bunda: Okey… aku juga sudah tidak sanggup hidup di rumah neraka ini with you… kalo bukan karena Yuki, aku tidak akan bertahan…

Yuki pun mendengar semua pertengkaran kedua orang tuanya. Dadanya benar-benar terasa sesak, selama 10 tahun dia benar-benar harus menahan dirinya untuk mendapatkan kasih saying yang utuh dari kedua orang tuanya.

Yuki tak mau pulang. Dia lebih memilih menepati janjinya pada teman-teman yang senasib dengannya.

Teman Yuki 2: Woi… kemana aja… lama banget…
Yuki: gue Cuma jalan-jalan bentar,
Teman Yuki 1: Loe nggak bakat bohong Yuk,, pasti loe biz nikmatin menu pertengkaran orang tua loe kan? Hahaha… mereka hanya bias ngatur tanpa arah yang tidak jelas…!!!!
Temen Yuki 3: Ouw…Ouw…Ouw… hidup sudah susah man, jangan bikin runyam, kita santai saja… hahaha… Gue punya barang baru nie, kalian mesti cobain…
Teman Yuki 2: inilah yang dikatakan surga dunia…
Teman Yuki 1: hahaha… kita harus mengajak lebih banyak lagi orang untuk menjadi teman kita… hahaha…
Teman Yuki 3: Kita… loe aja kali… gue nggak… hahaha…
Yuki: gue ada di atas awan sob…

Siapa yang mematikan siangku?
Terpasung sendiri… sunyi…
Tak ada lagi warna yang mendekat
Tak ada lagi nada yang menghibur
Siapa yang menusuk malamku?
Tak punya mimpi
Mati, tercecer
Bulanku sakit…
Siapa yang memecahkan hariku?
Jahat, pengecut, tak tahu diri…
Siapa yang menghilangkan duniaku?
Terikat satu-satu
Menggelinding tanpa rem
Tenggelam, retak

ach… kepala gue… tidak… tidak… tidak…………..
Teman Yuki 1: Yuki… loe kenapa???
Teman Yuki 2: dia sekarat… kita mesti cabut…

Yuki tergeletak pingsan hingga keesokan harinya.
Pagi hari yang tak begitu cerah…
Winda: Yuki… kamu kenapa??? Yuki… aku telah membelikan himitsu untukmu…Yuki…

Akibat pengaruh narkoba yang Yuki gunakan. Membuatnya, mesti dirawat berbulan-bulan di rumah sakit. Hingga kado ulang tahun himitsu yang direncanakan pun gagal dilakukan bersama. Dokter telah menyatakan bahwa Yuki mengalami geger otak ringan karena overdosis. Sebagai sahabat yang baik, winda selalu setia menemani. Winda ingin mengisi memori Yuki yang terhapus dengan hal-hal baru yang akan membawa Yuki pada kebaikan. Winda tersenyum bahagia. Allah sungguh sayang pada dia dan sahabatnya itu.

Winda: Yuki, ini hadiah ulang tahun untukmu…
Yuki: apa isinya win?
Winda: bukalah…
Yuki: ini…
Winda: itu jilbab… wajib hukumnya bagi setiap muslimah untuk memakainya…(tersenyum tulus, sambil memakaikannya kepada Yuki)
Kamu cantik sekali… dengan jilbab itu…

Sungguh… waktu tidak akan mengkhianati manusia seperti kita ini… esokkan pasti lebih baik… karena hidup ini adalah sebuah anugerah…

0 komentar: